Ini senin, bagiku selalu ramai. Ramai dengan segala kesibukan setelah libur dari segala macam aktivitas rutin yang membosankan. Senin yang menggairahkan, hingga cucian yang semalam direndampun terabaikan. "Besok sajalah...lelah..." pikirku
Ini tentang catatan kosongku. Aku pikir, akan terus kosong, tanpa ada kejadian special satupun. Ternyata aku salah. Kosong itu, mulai terisi... Dengan apa?? Cinta, pekerjaan, atau apa???! Masa depan...
Ya, terisi dengan masa depan, mungkin begitu menurutku. Soal cinta itu tak perlu, Allah sudah beriku lebih dari Cinta-Nya. Soal pekerjaan itu nomor dua, karena rezekiku sudah Allah jamin saat aku masih berada dalam kandungan Emak.
Bicara soal Emak, rindu juga sama Emak. Sudah 5 tahun Emak pergi, tak sempat pamit, tak sempat bertatap muka, tak sempat berpeluk cium. Hanya do'a-do'a terus teruntai saat kepergiaan Emak dulu.
Dulu, aku selalu berpikir Allah tidak menyayangiku, karena tak mengizinkan aku untuk bertemu Emak disaat-saat terakhir kepergian Emak. Tapi kemudian, aku mengambil hikmah dari peristiwa itu. Sekarang, aku selalu merasa Emak itu ada, dan selalu menungguku pulang. Aku rindu, Emak....😢
Do'akan anak bontotmu ini bisa menemukan pelabuhan terakhirnya. Biar bisa kayak Emak sama Abah, tak terpisahkan. Do'akan anak bungsumu ini sehat dan tegar menjalani hari-harinya bersama anak semata wayangnya. Do'akan, mak....
Biarlah catatan kosong ini terisi dengan sendirinya. Oleh kebahagiaan tentunya. Hingga penuh, meluap, dan sesak dengan kebahagiaan bathin dan hakiki. Penuh Rahmat dan Ridlo sang Ilahi.
Selamat petang catatan kosong yang terisi....
Senin, 20 Maret 2017
Jumat, 10 Maret 2017
Hilang Yang Disengaja
Ini jum'at terdamai sepanjang tahun 2017. Mencoba tetap tersenyum tulus untuk meninggalkan sebuah harapan yang tak akan pernah terwujud. Bagiku tidak, entah bagi Allah. Andai saja itu terjadi, rasanya itu tak mungkin buatku.
Tak ada yang istimewa sebenarnya. Tapi ada hal lain yang bisa membuat aku berharap banyak pada hal baru. Tetap saja, hal bernama masa lalu itu tak akan pernah pergi. Tapi akan terus aku simpan untuk merangkai semua pengalaman baru di tahun ini.
DIA tak boleh tersentuh sedikitpun dalam catatan kosongku. Hingga saat ego datang, aku menangis, kesal, dan meminta pada Tuhan untuk menghilangkan ingatanku tentang DIA. Seketika itupun, Tuhan menjawab permintaanku. Semua, apapun hal bernama masa lalu hilang dalam sekejap. Aku sedih sepersekian detik, lantas kembali bangkit dan kembali tersenyum untuk sebuah harapan yang lain.
Bissmillah, ingatan itu tak akan pernah hilang, tapi bila terus mengingatnya, dengan terus melihat, dan mengulang semua kenangannya, kita tak akan pernah bisa menghentikannya. Jadi, setelah semua catatan itu hilang, aku mencoba untuk membiarkannya dan merangkulnya. Bukan mencoba melupakannya....
Terima kasih Maret, semoga menjadi awal yang baik untuk tahun ini.
Selamat ulang tahun, untuk adikku, At-Soe, barrakallah fii umrik...
Selamat malam masa depan...
Tak ada yang istimewa sebenarnya. Tapi ada hal lain yang bisa membuat aku berharap banyak pada hal baru. Tetap saja, hal bernama masa lalu itu tak akan pernah pergi. Tapi akan terus aku simpan untuk merangkai semua pengalaman baru di tahun ini.
DIA tak boleh tersentuh sedikitpun dalam catatan kosongku. Hingga saat ego datang, aku menangis, kesal, dan meminta pada Tuhan untuk menghilangkan ingatanku tentang DIA. Seketika itupun, Tuhan menjawab permintaanku. Semua, apapun hal bernama masa lalu hilang dalam sekejap. Aku sedih sepersekian detik, lantas kembali bangkit dan kembali tersenyum untuk sebuah harapan yang lain.
Bissmillah, ingatan itu tak akan pernah hilang, tapi bila terus mengingatnya, dengan terus melihat, dan mengulang semua kenangannya, kita tak akan pernah bisa menghentikannya. Jadi, setelah semua catatan itu hilang, aku mencoba untuk membiarkannya dan merangkulnya. Bukan mencoba melupakannya....
Terima kasih Maret, semoga menjadi awal yang baik untuk tahun ini.
Selamat ulang tahun, untuk adikku, At-Soe, barrakallah fii umrik...
Selamat malam masa depan...
Selasa, 28 Februari 2017
Catatan Kosong 2017: Disini, di Surabaya
Catatan Kosong 2017: Disini, di Surabaya: 28 Pebruari 2017 aku berada di sebuah kostan murah di kota Surabaya dekat Grand City Mall
Disini, di Surabaya
28 Pebruari 2017 aku berada di sebuah kostan murah di kota Surabaya dekat Grand City Mall & Convex, tempatku mengikuti event BangWan Batik Fest. Kenapa aku memilih kostan murah, padahal bos meminta aku untuk menginap di hotel selama 5 hari. Tidak, terlalu mewah bagiku. Lebih baik uangnya aku gunakan untuk keperluan mendadak selama event berlangsung. Dan disinilah aku sekarang. Di sebuah rumah kost mbak Citra yang semok dan ramah menerimaku dikostan sederhananya.
Setelah seharian melakukan perjalanan melelahkan di kereta Turangga dari Stasiun Bandung tujuan akhir Surabaya. Tak aku kira, Surabaya lebih panas dari Jakarta, atau malah sama panasnya. Entahlah, yang pasti di sini, aku mulai semuanya. Mulai mengisi catatan kosongku di tahun 2017. Setelah 2 bulan terlewati. Kekosongan di bulan Januari dan Pebruari, akan menyusul terisi dengan semua catatan yang telah aku rekam di memori kepalaku. Disini, di Surabaya.
Surabaya, menjadi kota kedua di tugas luar kota ku sebagai pelaku event. Tentu saja sebagai exhibitornya. Dan sebelumnya, aku mengunjungi kota Malang selama dua minggu. Banyak cerita yang aku pikir, antara keadaan sedih dan senang, aku benar-benar harus tetap bersyukur. Hanya itu kunci dari semua ujian. Dan tentu saja, SABAR.
Esok, perjuangan akan kembali di mulai. Badan sudah butuh istirahat. Mudah-mudahan hari pertama event omsetnya memuaskan. Aamiin...
Sugeng wengi, Surabaya. Wilujeung wengi, Bandung...
Setelah seharian melakukan perjalanan melelahkan di kereta Turangga dari Stasiun Bandung tujuan akhir Surabaya. Tak aku kira, Surabaya lebih panas dari Jakarta, atau malah sama panasnya. Entahlah, yang pasti di sini, aku mulai semuanya. Mulai mengisi catatan kosongku di tahun 2017. Setelah 2 bulan terlewati. Kekosongan di bulan Januari dan Pebruari, akan menyusul terisi dengan semua catatan yang telah aku rekam di memori kepalaku. Disini, di Surabaya.
Surabaya, menjadi kota kedua di tugas luar kota ku sebagai pelaku event. Tentu saja sebagai exhibitornya. Dan sebelumnya, aku mengunjungi kota Malang selama dua minggu. Banyak cerita yang aku pikir, antara keadaan sedih dan senang, aku benar-benar harus tetap bersyukur. Hanya itu kunci dari semua ujian. Dan tentu saja, SABAR.
Esok, perjuangan akan kembali di mulai. Badan sudah butuh istirahat. Mudah-mudahan hari pertama event omsetnya memuaskan. Aamiin...
Sugeng wengi, Surabaya. Wilujeung wengi, Bandung...
Langganan:
Postingan (Atom)